Lanjut ke part terakhir. Nah mulai ke sini kayanya sudah tidak banyak 'hal yang terjadi'. Dan saya juga sudah agak-agak lupa ingatan. Jadi langsung lanjut nulis selagi ingat, dan nanti akan ditambah sedikit-sedikit jika ada ingatan lagi.
Karena hari sebelumnya kami baru pulang malam, hari ini startnya agak siang. Planning kami hari ini adalah: Tokyo Tower, lalu acara bebas.
Kami set maps ke Tokyo Tower, dan sampai di stasiun tujuan dengan selamat. Tokyo Tower ini request dari Ann, tapi rencananya hanya foto towernya saja (tidak masuk/naik ke dalam).
Nah.
Ada spot foto yang disediakan di bawah Tokyo Tower. Jadi sudah ada tempat untuk taroh HP (sudut pengambilan gambarnya bagus!) dan tempat untuk berdiri.
Lalu. Ada insiden dikit. Jadi waktu saya dan Ann mau foto di spot ini, saya kira kita akan foto bareng berdua. Tapi Ann bilang saya foto duluan saja. Ternyata dia ngga lihat bahwa ada tempat untuk naroh hp (jadi bisa di-timer untuk foto berdua), jadi Ann foto saya secara manual, kamera dipegang. Untuk foto Ann dan foto yang kami berdua, saya taro hpnya di tempat yang disediakan. Saat saya pikir mau foto ulang untuk yang saya sendiri, Ann ngga enak karena sudah ada orang lain yang ngantri. Jadi ya sudahlah tidak apa-apa.
Setelah itu kami jalan ke Shiba Koen. Di sana juga lumayan banyak orang, jadi kalau mau ambil foto yang 'sendirian', boleh pinter-pinter saja cari sudut yang oke.
Karena sudah ke sini dan tujuannya memang untuk foto, sekalian saja foto-foto yang banyak. Waktu kami jalan ke stasiun terdekat, ternyata ngelewatin beberapa spot yang ada antrian orang foto. Jadi mungkin itu spot-spot 'bagus'nya. Saya dan Ann sih.... coba foto setiap ada kesempatan. Sekalian ke sini tujuannya untuk foto, maka harus foto yang banyak WKWKWK.
Lanjut. Sebelum misah untuk free time, Ann pun setuju ikut saya ke Harajuku dulu. Sekalian makan siang dan purikura. Kali ini saya ikut Ann makan di Halal Okonomiyaki & Ramen Usagi.
Kami pilih ramen dan okonomiyaki mochi, dan okonomiyaki-nya enak banget????? Ini pertama kalinya saya makan okonomiyaki sih. Tapi chewynya ada, dagingnya empuk, dan porsinya juga lumayan besar. Kami makan berdua kenyang banget sih. Sekalian duduk, ngadem, minum air dingin.
Di sini saya dan Ann purikura (kali ini sudah lebih pro!), lalu saya anter Ann balik ke stasiun. Setelah ini Ann akan keliling untuk cari stamp. Sebenarnya saya agak khawatir juga ngelepasin Ann sendirian di negara orang. Apalagi berdasarkan pengalaman, Ann ini tipe yang buta mapsnya itu BUTA bener. Tapi karena sejauh ini Ann juga sudah bisa beli tiket kereta sendiri, dan sudah ngerti nyari platform kereta, exit, dan lain-lain, yaaa okelah kalau masih di sekitaran stasiun harusnya aman.
Setelah itu saya jalan-jalan di Takeshita untuk lihat-lihat baju (bagus-bagus banget???) dan aksesoris. Mampir bentar ke tempat gacha karena tiada hari tanpa gacha. Dan akhirnya sampai ke tujuan utama saya hari ini: Laforet.
Intinya semua bajunya 'wah' banget??? Dari lolita, gothic, jirai, macam-macam. Karena saya memang tidak join komunitas (yang mungkin sering gathering offline juga), banyak baju-baju yang mungkin cuma pernah saya lihat di CF atau event cosplay? Biarpun tidak beli apa-apa (tentu saja), tapi lihat-lihatnya juga sudah senang banget!
Lalu senang sekali bisa melihat tas Maison de Fleur secara langsung. Agak random, tapi ada periode saya INGIN BANGET tas ini karena sering lihat Starto-wota pakai. Jadi di Laforet saya visit storenya, lihat-lihat dan mikir "wah ini cantik banget ya", cek harganya, lalu dengan sopan saya kembalikan ke rak.
Sama kayak Liz Lisa. Lihat-lihat. Cantik banget. Lihat harganya. Saya kembalikan dengan sopan ke rak. Tidak apa-apa. Bekerja keras sehingga suatu saat nanti bisa beli Liz Lisa tanpa liat harga.
Di luar juga ada spot fotonya! Karena kali ini saya sendirian, jadi saya minta tolong stafnya untuk fotoin. Kenang-kenangan.
Setelah puas keliling-keliling Laforet, akhirnya saya mau pulang. Tapi tentu saja, sebagai tujuan terakhir di Harajuku, saya mampir (lagi) ke sayangku cintaku manisku Noemie.
Tentu saja saya juga yakin mbak-mbaknya tidak ingat sama saya. Tapi saya ingat mbaknya. Jadi kali ini saya datang layaknya ~turis~ yang hanya bicara English™. Apalagi kali ini dengan baju jirai (kebetulan atas bawah pakai Noemie juga wkwkwk) dan pakai makeup. HARAPANNYA SIH kelihatan seperti orang yang sama sekali berbeda dengan hari sebelumnya.
Mbak-mbak Noemie baik banget tentu saja. Selama di sana juga saya mikir 'kok ini lagunya kayak kenal?' ternyata lagu Kinpuri!! Memang ini hari saya, didukung untuk belanja. (maksudnya apa)
Lanjut. Setelah berhasil bawa pulang Noemie dengan aman, saya pun jalan balik ke stasiun. Tadinya saya mau ganti baju lagi, tapi saya pikir ah sudahlah dari sini kan tinggal naik kereta langsung ke hotel.... Nanti ganti di hotel aja.
Jadi saya naik kereta, dan balik ke hotel. Karena Ann belum balik, jadi saya coba beres-beres koper saja. Kami pakai business hotel biasa, dan... yah.... agak sempit. Bahkan awalnya saya ragu apakah 4 koper bisa masuk. Ternyata bisa selama rapi--semua barang belanjaan harus langsung masuk koper, jangan ada barang yang ditinggal di luar. Tapi konsekuensinya, koper jadi agak tidak karuan karena dari hari pertama saya cuman 'yang penting masuk dah'.
Selagi saya masih sendirian di hotel, saya buka koper dan mulai saya rapikan. Setelah disusun, baru kelihatan "oh iya masih ada space untuk oleh-oleh lain". Saya ganti baju dengan yang lebih comfy, lalu jalan lagi untuk ke: Donki.
Ini Donki kedua saya selama trip ini. Sebetulnya memang sengaja menghindari Donki, karena pengalaman saya sebelumnya Donki ini lorongnya sempit, kasirnya ngantri, dan lagunya agak bikin stres. Tapi karena gimanapun juga saya ngerasa Donki ini tempat yang 'nyari apa aja ada', akhirnya saya mampir sebentar ke Donki dekat hotel.
Setelah dari Donki, saya balik ke hotel untuk taruh barang dan lanjut lagi untuk cari oleh-oleh di Ameyoko. Agak kebalik sebetulnya, karena kata orang sih justru harusnya cari oleh-oleh di drugstore dulu (biasa lebih murah) baru ke Donki untuk cari barang yang tidak ada di drugstore. Tapi gapapa lah.
Hari ini tidak ada break ngopi (karena saya pikir ngapain juga jika sendirian), jadi saya cuma beli smoothies sambil jalan-jalan. Dan tentu saja sekali lagi mampir ke Taito Game untuk main claw machine karena saya masih belum menyerah. Tapi tentu saja gagal lagi. Saya beneran sampai akhir main claw machine ini hanya dapat hikmahnya saja.
Nah. Berhubung sekitaran waktu ini Ann katanya juga sudah lagi jalan-jalan di Ameyoko, kami sempat ketemuan bentar, lalu pisah lagi untuk makan malam. Saya rencana mau makan tonkatsu, jadi saya coba mampir ke restoran tonkatsu yang lumayan terkenal di sekitaran Ueno. Ternyata ngantri. Lumayan juga ngantrinya. Jadi saya ke plan kedua: Go Go Curry. Tonkatsu dengan tambahan telur. Enak banget guys sangat recommended.
Saya pernah makan Go Go Curry di Indo juga, tapi untuk tonkatsu kan di sini ngga ada ya. Jadi saya pikir OK lah, kita coba curry-nya dengan tonkatsu. Saya sih suka banget! Sampai hari terakhir rencananya mau makan di sini lagi, tapi ternyata jam segitu sudah tutup (agak sedih).
Setelah dinner, saya pun kembali pulang dan istirahat dengan tenang.
.
DAY 7. UENO + SHIBUYA (lagi)
Planning awal kami adalah, hari terakhir ini di Ueno saja. Jalan-jalan santai dekat hotel sambil cari oleh-oleh.
Lalu waktu lihat-lihat Google Maps, saya lihat ternyata Tokyo University ada gedungnya di dekat sini. Jadi Ann (master degree, intelektual sejati) ingin coba lihat-lihat ke sana. (lihat gedungnya dari luar, tentu saja. Tidak masuk ke dalam)
Awalnya saya tidak mau ikut, tapi dipikir lagi:
1) ini mostly akan jalan kaki, dan presumably minim penunjuk jalan (tidak seperti stasiun)
2) Ann ini buta arah.... banget
3) sudah di sini juga, tidak ada salahnya ikut mampir.
Jadi saya ikut, tapi Ann yang akan buka maps dan pimpin jalan. Pagi-pagi kami mulai jalan di Ueno Park. Masih sepi. Banyaknya orang yang jalan pagi atau naik sepeda.
Kami jalan terus, sampai akhirnya keluar di tempat yang agak 'terpisah' dari area ramai Ameyoko. Mungkin residential area (sotoy parah). Lanjut jalan--masih percaya dengan Ann.
Setelah jalan beberapa lama, akhirnya dari jauh kelihatan gedung yang SEPERTINYA sih itu univnya. Kami jalan nanjak lumayan jauh.... tapi pada akhirnya kami turun balik lagi di sisi sebelahnya, padahal sepanjang jalan ada jalan memotong ke sebelah.
Di sini saya sudah agak curiga.
TAPI setelahnya kami nemu gerbang. Bukan gerbang utama, tapi tetap gerbang masuk Tokyo University. Gerbangnya ditutup (hari itu weekend), jadi kami hanya lihat dari luarnya saja, dan lanjut jalan lagi karena tujuan kami adalah gerbang utama.
Kata Ann, "tinggal jalan sedikit lagi". Berhubung Ann berhasil sampai ke gerbang samping, saya jadi tenang dan percaya lagi.
Tapi makin lama kok rasanya tidak sampai-sampai ya. Padahal waktu saya cek sebelumnya, harusnya jaraknya pendek.
Kembali curiga.
Saya: "Ann, boleh lihat mapsnya?"
Ann: (kasih maps)
Saya: "Ini.. arah sebaliknya."
Ann: "Masa?"
Begitulah. Setelah 6 hari menjadi navigator (dan sebelum pergi sudah menghafalkan maps stasiun ke hotel precisely untuk menghindari kejadian seperti ini), ternyata hari ke-7 pun masih harus menjadi navigator. Tapi tidak apa-apa. Ini kan untuk saya sendiri juga.
Akhirnya saya yang pegang maps, dan kami pun sampai ke gerbang utama dengan selamat. Awalnya cuma mau lihat dari luar saja, tapi ternyata gerbangnya dibuka dan banyak orang tua bawa anak kecil yang masuk juga. Jadi kami mampir bentar.
Catatan tambahan: gambar agak blotchy karena ada satu part yang saya pakai object eraser. Niatnya mau disensor aja sebadan-badan, ternyata kegedean gengs sorry.
Tadinya Ann mau lihat-lihat lebih banyak, tapi dia bilang nanti saja pas free time akan balik lagi. Mungkin dia ngga enak ada saya yang 'ngga ngapa-ngapain' di sana. Padahal ngga apa-apa sih WKWKWK
Jadi kami otw kembali ke Ueno, karena planning kami berikutnya adalah: cetak foto dari disposable camera.
Berdasarkan info yang didapat Ann dari TikTok, banyaknya orang cetak foto di Kitamura Camera Shibuya atau Shinjuku. Tapi waktu kami cek, ternyata ada Kitamura Camera juga di Ueno Marui, dekat hotel. Jadi kami mau coba ke sana aja.
Sambil jalan, kami mampir bentar untuk beli sarapan mitarashi dango dan daifuku. Sempat salah jalan sedikit juga (kali ini saya yang salah), dan sempat mampir bentar ke Taito Game untuk Purikura (lagi) tapi akhirnya sampai ke Ueno Marui dengan selamat.
Nah. Ternyata, kata mbak-mbak Kitamura Camera, tidak bisa cetak di sini. (mungkin karena cabang kecil dan bukan toko yang berdiri sendiri)
Sebetulnya bisa terima, tapi cetaknya sendiri bukan di situ. Jadi harus tunggu sekitar 10 hari sebelum bisa diambil lagi. Nah loh. Jadi saya tanya, kalau di sekitar Ueno sini kira-kira bisa cetak di mana ya? Kata mbaknya mungkin di Yodobashi Camera, tapi itu juga beliau kurang tahu. Mbaknya juga refer ke Kitamura Camera yang lebih besar di area lain (saya agak lupa mbaknya sebut yang mana).
Jadi saya dan Ann diskusi singkat. Mending gimana ya. Karena rencana awal kami adalah jalan-jalan di Ueno Marui dan sekitaran Ueno sambil nunggu fotonya dicetak. Dan kalau harus ke area lain, lebih baik ke tempat yang sudah pasti bisa cetak. Jadi Ann kembali cek TikTok untuk cari referensi, dan akhirnya diputuskan: Kitamura Camera.... di Shibuya.
Nah. Seharusnya, yang kami lakukan adalah: selesaikan dulu belanja di Ueno Marui, taruh barang di hotel, baru ke stasiun. Tapi kami malah: "ke Shibuya aja dulu, nanti belanja di sini malem aja." (jangan ya guys, malamnya malah jadi agak rusuh wkwk)
Lanjut. Jadi dadakan kami pun ke Shibuya. Kali ini sudah tidak salah cari exit, dan kami pun keluar pas di Shibuya Crossing. Untuk cari Kitamura Camera, patokan saya adalah lewati Shibuya 109 -> Mega Donki -> sebelah kebab.
Ketemu tanpa banyak drama. Bisa cetak di sini, ditunggu sekitar 3-4 jam. Cukup isi form dengan nama dan nomor telepon. Karena tidak punya nomor telepon Jepang, saya hanya isi nama saja. Lalu ditanya mau ambil paket apa (digital only, digital + physical copy, dll) dan mau ukuran berapa. Setelah itu ada agreement yang harus kita centang. Mungkin karena banyak turis yang ke sini, mereka juga sudah siapin versi bahasa Inggrisnya.
Kami dikasih satu lembar kertas dengan nama saya dan jam berapa fotonya bisa diambil. Nanti bisa balik lagi ke storenya, dan bayarnya nanti setelah foto diterima.
Karena saya ada dadakan titipan di Muji dan Ann juga memang mau ke sana lagi, kami pun jalan ke Muji. Setelah lihat-lihat di Muji, kami pisah untuk makan dan jalan-jalan sendiri, dan janjian untuk ketemu lagi di Kitamura Camera pas jam pengambilan foto.
Saya awalnya mau ke Oreryuu Shio Ramen--salah satu incaran saya dari pertama kali saya ke Jepang sebelum ini. Tapi ternyata rame banget. Kalau hanya 3-4 orang saya masih mau ngantri. Tapi ini BANYAK. Dan di tengah hari jadi agak panas. OK saya lanjut ke target berikutnya: Tamago to Watashi. Tempat omurice. Waktu sebelumnya saya cek-cek 'sekitar Shibuya bisa makan apa ya', saya tertarik sama gyutan stew omurice-nya. Dan karena ada di dalam gedung, saya pikir ngantri pun gapapa.
Nyarinya agak susah, karena titiknya bukan pas di pintu masuk gedung tapi di sampingnya (tembok!).
Agak bingung karena menurut Gmaps ini sudah sampai, tapi kanan kiri saya.... tembok. Setelah muter ke sisi satunya, baru lihat ada pintu masuk gedung dan keterangan ada apa saja di situ.
Saya naik ke lantai 6, tempat Tamago to Watashi. Benar saja ternyata saya ngantri sekitar 20 menitan, tapi waktu masuk, nunggu makanannya tidak lama jadi lumayan sat set.
Gyutan-nya lembut dan omurice-nya juga enak. Intinya, saya sih suka. Nah. Saya pesan gyutan omurice ini paket dengan 1 minuman: ice lemon tea. ICE lemon tea.
Tapi yang datang ke saya adalah: 1 gelas es lemon tea, dan... 1 cangkir lemon tea panas (mungkin). Masih 'mungkin', karena saya juga tidak yakin itu apa. Saya pegang cangkirnya sih panas. Di atasnya ada potongan lemon. Diduga kuat adalah lemon tea panas. Saya mau tanya, tapi mbaknya kelihatan sibuk. Sampai akhir tidak saya minum sih, tapi... membingungkan.
Lalu intinya saking bingungnya, saya sampai tidak sadar pakai dua sendok makan. Mana sudah di gigitan ke-4 atau ke-5. Tiba-tiba saya lihat tray cutlery dan baru sadar isinya 2 garpu.
Saya: 'Kok 2 garpu... Berarti dari awal saya dapatnya 1 sendok dan 3 garpu?'
BUKAN. Setelah cek tangan kiri, ternyata dengan pedenyan saya makan kanan kiri pakai sendok.
OK. Lanjut. Saya jalan-jalan di sekitar sana, mampir ke beberapa toko, dan akhirnya kembali lagi ke: Shibuya 109.
Tapi karena hari-hari sebelumnya sudah beli Noemie dan MA*RS, kali ini saya bertekad untuk tidak belanja. Lihat-lihat saja.
Beda dengan waktu Day 1, yang saya datang pas agak sepi, kali ini ramai pengunjung. Karena ramai, jadi buat saya lebih enak juga untuk masuk ke toko dan lihat-lihat. Karena stafnya banyaknya memang sudah lagi ngelayanin orang lain, jadi tidak langsung nyamperin saya.
Walaupun sudah bertekad tidak belanja, pas saya mampir ke Rojita, ada set yang saya naksir banget. Bukan jirai-kei atau ryousangata, jadi saya pikir bisa dipakai di setting yang lebih casual juga. Mungkin karena saya diem ngeliatin agak lama, akhirnya stafnya nyamperin saya dan tanya apakah saya mau coba. Saya cek harganya: 9rb. Satu set 9rb? Masih oke.
Saya coba. Pas. Wah. Ini sih pertanda. Saya keluar dan bilang OK saya mau ambil.
Mbak Rojita: "Atasnya, bawahnya, atau dua-duanya?"
Saya: (mendadak curiga) "...maksudnya?"
Mbak Rojita: "Ini dijualnya terpisah, ngga satu set. Kalau ambil dua-duanya, totalnya 17rb."
Saya: "OH. Oh. Um."
Mbak Rojita: "Jadi mau beli? Atau pikir-pikir dulu?"
Saya: "Pikir-pikir dulu ya mbak. Maaf ya." (dan melarikan diri)
(sebagai klarifikasi -> saya kira ini dijual satu set karena digantungnya barengan)
IYA SIH memang jika dipikir lagi mana ada Rojita set 9rb. Baju jirai-kei yang pertama kali saya pakai adalah Rojita yang dapat murah di thrift (kebetulan blus yang modelnya super simpel), jadi saya pikir suatu saat mau beli Rojita yang new. Ternyata ya begitulah, saya menabung dulu ya...
Lanjut. Saya lihat-lihat lagi ke toko lain, dan secara kebetulan lihat di Amavel ada dress yang lagi sale. Saya mampir, dan ternyata ada satu yang saya suka. Modelnya lebih casual, bisa dipakai sehari-hari. Dan pas saya cobain juga ternyata pas. Modelnya lebih 'keliatan' kalau pakai petticoat (disediakan petticoat di ruang gantinya), dan kalau tanpa petticoat bisa kelihatan lebih casual tapi tetap cantik.
Jadi kali ini saya gas. (tidak punya kontrol diri)
Lalu berikutnya saya ke MA*RS, karena adik saya ada titip satu set ryousangata. Dan di MA*RS disetel lagu SixTONES. Waktu saya bayar, mbaknya lihat Hokunui saya dan tanya apakah saya Suto-tan. Ternyata mbaknya juga Suto-tan dan baru nonton Arena Tour yang kemarin!! Senang sekali, terima kasih SixTONES pemersatu bangsa(?).
Setelah dari 109, ternyata waktunya pas untuk balik ambil foto yang sudah dicetak. Jadi saya mulai jalan balik ke Kitamura Camera, dan ketemu lagi sama Ann. Foto kami sudah selesai dicetak, tapi kamera-nya tidak dikembalikan. Kurang tahu juga apakah kamera ini memang tidak dikembalikan jika foto sudah selesai dicetak, atau bisa minta balik juga. Baru sadar waktu sudah balik ke hotel: eh tadi kamera-nya tidak dibalikin ya?
Untuk yang berhasil, fotonya bagus-bagus banget! Tapi ada juga yang gagal: ketutup jari (entah kenapa), gelap (indoor, bisa dimaklumi), atau kelihatan seperti foto horor penampakan (diambil malam). Tapi worth it sekali menurut saya. Apalagi jika cek IG-nya SixTONES mereka kayanya pakai disposable camera yang sama juga waktu di Singapore. (ada foto Shintaro pegang kameranya)
Recommended. Minusnya hanya 27 shot dan ngga bisa cek apakah 'berhasil' atau 'tidak berhasil' sampai nanti dicetak, tapi lumayan banget untuk kenang-kenangan! Karena kami juga pilih physical copy, jadi bisa disimpan di album foto khusus trip kali ini.
Lanjut. Waktu jalan balik ke stasiun, Ann lihat toko oleh-oleh yang jual gantungan kunci / stamp nama yang nama western ditulis jadi kanji. Awalnya kami cuma lihat-lihat di luar, terus Ann masuk ke tokonya untuk lihat oleh-oleh lain. Ada kipas, kaos kaki lucu dengan print gambar bungkusan snack, dan secara mengejutkan.... plushie Pokemon. Awalnya hanya kelihatan karakter yang populernya saja: Pikachu (banyak), Charmader, Squirtle, Gengar... Pas lagi nunggu Ann bayar, saya coba lihat-lihat ke bagian belakang raknya dan menemukan:
Mudkip.
YANG SAYA CARI. Yang tidak ada di 3 Pokemon Center. Saya cek labelnya--official Pokemon. OK. 買う. Senang sekali akhirnya bisa bawa pulang Mudkip.
Setelah itu kami balik ke Ueno, dan langsung menyelesaikan hal-hal yang sebelumnya kami pikir 'ah nanti saja belanjanya di hari terakhir'. Ke Ueno Marui, lalu ke Yamashiroya, drugstore lagi, dan lain-lain.
Lalu selama di sini, kami lihat kalau Gong Cha itu ramai terus. KOI di Harajuku juga. Sebelum berangkat, kami minum KOI di Terminal 3 Soetta. Tadinya mau coba juga KOI di Harajuku, tapi akhirnya tidak jadi WKWK
Tapi karena sudah hari terakhir juga, dan penasaran, kami akhirnya beli Gong Cha. Ramai. Ngantrinya lumayan. Gong Cha-nya enak sih, segar. Saya ngga pernah jajan Gong Cha di Indo, jadi kurang tahu apa bedanya. Tapi gapapa lah pengalaman (?).
Setelah semuanya done, kami pisah untuk makan malam. Saya tadinya mau ke Go Go Curry lagi, tapi ternyata waktu saya cek, ini sudah lewat closing time-nya. Jadi saya lanjut ke tempat lain yang saya agak ingin coba makan juga: Yoshinoya.
Masuk, langsung duduk aja dan pesen lewat tablet di meja. Saya pesen nasi karaage dengan set miso soup, dan 1 telur. Waktu makanannya sudah siap nanti nomornya dipanggil, dan kita ambil sendiri ke counter.
Dan... ini porsinya banyak banget. Jujur saya baru makan 2 karaage dan rasanya kayak 1 porsi Yoshinoya yang biasa saya makan di Indo. Tapi enak banget, karaage-nya crispy, asin, potongannya juga besar-besar. Miso soupnya panas, enak, pokoknya mantap. Minum bisa ambil sendiri di tempat yang disediakan. Lalu setelah makan, ada tempat untuk balikin tray-nya sendiri.
Karena sudah malam, dan besoknya kami harus bangun pagi, jadi setelah makan pun saya pulang ke hotel dan mulai beres-beres koper.
Tujuh hari kami jalan-jalan di Jepang, rasanya lewat dengan cepat banget. Semoga di lain waktu saya bisa datang kembali, dengan dompet yang lebih tebal (eh), dan waktu yang lebih panjang untuk bisa eksplor tempat-tempat lain juga.
.
DAY +1. NARITA -> CGK
Sebetulnya, kami bisa pakai Keisei Skyliner untuk ke Narita, sama seperti waktu kami datang dari Narita ke hotel. Tapi dengan pertimbangan bahwa kami masing-masing bawa 2 koper (waktu datang, koper kecil dimasukin ke koper besar) dan takutnya masih bawa tambahan barang lagi, Ann usul supaya pakai Airport Transfer.
Saya pesan Airport Transfer sekitar 2 minggu sebelum kami berangkat, lewat aplikasi Klook. Kami pesannya berdasarkan jumlah luggage, dan infonya akan dijemput dengan mobil Honda Odyssey atau setara.
H-1, drivernya sudah hubungi saya lewat WA untuk kasih tau mobil dan plat mobilnya. (Ternyata pakai Alphard guys....)
Kami sudah checkout hotel sekitar 15 menit sebelum waktu penjemputan. Dan 5 menit sebelum waktu penjemputan, drivernya info bahwa sudah di depan hotel. Jadi saya dan Ann langsung keluar, dan kami dibantu untuk masukin luggage ke bagasi. Setelah itu kami tinggal duduk tenang, bobo, dan diantar langsung sampai ke terminal tujuan di Narita Airport.
Agak pricey sebetulnya, tapi menurut sy worth it banget lah. Benar-benar jadi tidak ribet. Waktu sudah sampai di Narita juga kami dibantu turunin koper. Terima kasih bapak driver.
Lanjut. Selama di mobil, saya dan Ann sudah check in online. Jadi begitu sampai tinggal masukin bagasi saja. Nah, ini pertama kali saya drop bagasi sendiri. Agak bingung, tapi dibantu oleh staff. Akhirnya kami drop baggage dengan aman dan prosesnya pun sat set.
Sebetulnya kami punya spare waktu yang masih lumayan, tapi kami langsung masuk saja pemeriksaan tas dll dan nunggu di gate. Di dekat gate kami ada Tully's yang nempel dengan toko buku.
Ann beli light novel (bahasa Inggris, tentu saja) dan saya menemukan buku yang saya agak INGIN tapi kebetulan tidak lihat di toko buku yang didatangi:
 |
| izin, foto menyolong dari webnya |
Agak galau mau beli yang mana, karena bagasi sudah masuk sementara saya cuma bawa 1 (satu) tas slempang kecil. Saya tidak expect akan ada tambahan barang.
Akhirnya saya beli 2 saja: Kuromi dan Pochako (tapi jujur inginnya sih menabung dan beli semuanya). Setelahnya kami sempat keliling bentar
Setelah itu kami beli sarapan di Tully's. Masing-masing beli sandwich dan kopi. Lalu kami menunggu flight dengan tenang di deretan kursi yang menuju gate.
Rencana awalnya adalah baca buku dengan tenang sambil ngopi. Ternyata jika sudah duduk sebelahan menganggur gini, tentu saja yang terjadi adalah menggosip. Tidak terasa sudah dekat waktu boarding, dan kami pun turun ke gate (1 lantai di bawah). Saya sih rekomen nunggu di bagian atas saja--lebih sepi, lebih adem.
Flight berjalan dengan lancar, dan kami pun mendarat di Soetta dengan selamat. Travel kami pun berakhir tanpa banyak drama dan tanpa berantem (syukurlah).
Memang kuncinya adalah: sekali-kali pisah jalan (introvert), banyak duduk istirahat, dan banyak cari info sebelumnya supaya tidak 'baru nyari' pas di sana. Semua hal yang bikin kami stress saat trip kami sebelumnya, kali ini diusahakan agar tidak terjadi lagi.
Jika ada waktu dan kesempatan lain, semoga kami bisa travelling bareng lagi. Terima kasih Ann, terima kasih semuanya.
Untuk saya beberapa tahun ke depan--yang mungkin baru ingat lagi bahwa saya punya blog ini--semoga bisa kembali mengingat trip ini dengan perasaan yang bahagia ya. Terima kasih.
No comments:
Post a Comment